Now Reading
Surat Untuk Teman-Teman Pengungsi

Surat Untuk Teman-Teman Pengungsi

Avatar

Teman-teman pengungsiku terkasih,

Ini adalah surat yang ku tulis dengan sangat tulus sebagai ungkapan kehormatan untuk
mengabadikan persahabatan kita.

Dahulu, aku hanyalah seorang gadis cuek dengan seperangkat hak dan kebebasan. Aku
lahir di tempat yang damai dan tumbuh tua dengan perasaan diinginkan oleh bangsa
dan masyarakatku. Bertahun-tahun yang lalu, aku hanyalah seorang gadis yang tidak
peka, yang menyombongkan tanahku dan tidak tahu siapa kamu dan dari apa kamu
berlari.

Masa kecilku tidak seperti masa kecilmu. Masa kecilku sempurna; ayah, ibu, saudara
perempuan berpipi merah, dan rumah yang bahagia. Presiden dan pemimpin kami
merawat kami; sekolah-sekolah terbaik, kereta api, donat gratis untuk anak-anak, layanan
kesehatan yang terjangkau, dan yang terpenting, tidak ada bom dan roket.

Sementara diriku sedang menikmati privilese tinggal di tanah air ini, dirimu sedang
berlari dengan teman sekelasmu, dari bazoka dan pria-pria bersenjata ketika pulang dari
sekolah. Saat diriku sedang bersepeda ke taman bermain, dirimu sedang menghadiri

pemakaman orang terkasih. Sementara diriku sedang tertidur nyenyak dengan ibu di
samping, di kamar yang nyaman, dirimu sedang terbangun tercengang karena rumah
indahmu setengah dibombardir.

Untuk semua teman pengungsi, atas nama semesta ini, aku benar-benar memohon
maaf untuk setiap hari dan malam yang dirimu habiskan dalam ketakutan dan air mata.
Atas nama kemanusiaan, aku memohon maaf karena benar-benar tidak menyadari
perlawanan rakyatmu dan diam saja. Aku acuh dan tak tahu apapun. Rasa malu ada pada
diriku, masyarakatku, dan seluruh dunia ini. Atas nama cinta, aku berjanji pada diriku
sendiri, kamu tidak akan pernah melewati ini sendirian.

Untuk semua teman pengungsi, aku akan mencoba menebus kejahatan dunia ini
kepadamu. Aku akan mencoba membalut luka mu, meskipun butuh waktu lama untuk
sembuh. Aku akan mencoba menyusun kembali batu bata rumah mu yang rusak, sama
seperti dirimu menyatukan kembali impian-impian mu.

Untuk semua teman pengungsi, terima kasih karena selalu gigih dalam memberi tahu
semesta tentang apa yang telah mereka perbuat kepadamu. Terima kasih telah
mengajari dunia untuk, setidaknya, menjadi lebih baik. Terima kasih telah datang ke
dalam hidupku dan membiarkan diriku menjadi temanmu di dunia kacau yang tidak adil
ini. Aku akan selamanya bersamamu, sampai maut memisahkan kita.

Salam,
Temanmu.

 

 

Dear my refugee friends,

This is an epistle that I wrote so genuinely as an honor turn of phrase to monumentalize
our friendship.
A long time ago, I was just a careless girl with a set of rights and freedom. I was born
somewhere peaceful, and grew old feeling wanted by my country and my people. Years
ago, I was just an insensitive girl fancying my land, and not knowing who you were and
what you were running from.

My childhood was not like yours. Mine was perfect; a father, a mother, a rosy-cheeked
sister, and a blissful home. Our presidents and leaders took care of us; excellent schools,
railways, free donuts for kids, accessible healthcare, and most importantly, no bombs
and rockets.

While I enjoyed my privileges living in this motherland, you were running with your
classmates from bazooka and armed men on the way from school. While I rode my bike
to a playground, you were attending a loved-one’s funeral. While I slept peacefully with
my mother next to me in a cozy room, you were waking up in shock to your lovely house
half bombarded.

To all my refugee friends, in the name of this universe, I really am sorry for every single
day and night you spent in fear and tears. In the name of humanity, I do apologize for not
knowing your peoples resistance and being silent. I was careless and ignorant. The
shame is on me, my people, and this entire world. In the name of love, I promise to
myself, you will never get through this alone.

To all my refugee friends, I will try in dribs and drabs to atone for the evil this world has
done to you. I will try to put a band-aid on your wounds, although it may take so long to
remove it. I will try to put back the broken bricks of your house, just as you put your
dreams back together.

To all my refugee friends, thank you for having the tenacity to tell the universe what they
did to you. Thank you for teaching the world how to be, at least, a little kinder. Thank you
for coming into my life and letting me be your friend in this unfair chaotic sphere. I am
forever with you, till death do us part.

Love,
Your friend.


Copyright © 2021 the archipelago. The material on this site may not be used elsewhere without written permission. For reprint enquiries, contact us. | Powered by SMART